Membangun Manusia

Bisakah kita, membangun manusia dengan proses pendidikan di luar sekolah ? Beberapa orang akan menjawab bisa. Opini di luar itu pasti banyak, namun tak perlu dihiraukan, karena hakikatnya mayoritas orang akan menjawab sesuai dengan pengalamannya masing-masing. 

Jalaludin Rahmat mengatakan ada sebagian dari kita yang mempunyai pola pikir yang berpenyakitan. Singkatnya, orang yang selalu menjadikan satu dua pengalamannya sebagai acuan dalam berpendapat. Hal inilah yang kadang-kadang membuat orang ragu akan bertindak karena dipengaruhi oleh penyakit ini.

Di rumah saya, tidak kurang ada 25 buku tentang biografi orang-orang yang telah melakukan penemuan besar. Dari semua itu, teori tentang arus masuk sama dengan arus keluar bisa dibuktikan dari hasil penemuan mereka. Jadi sangat wajar jika segala sesuatu dilakukan dengan tekun, sesuai dengan koridor dalam berbuat, tidak melanggar norma, maka hasilnya tidak akan mengecewakan.

Apa yang dimaksud dengan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas ? Apakah definisi tersebut perlu dimulai dari skill yang dibutuhkan saat ini ? Metode pengembangan yang seperti apa ketika dihadapkan dalam dunia yang based standarization ? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang membuat manusia seantero negeri berlomba-lomba mencari tools yang terbaik.

Kita patut mendalami hal ini, 
"Otak bagian intelek tidak memiliki hubungan urat syaraf dengan hati, usus, lambung dsb. Sehingga tingkat kepintaran tidak pasti mempengaruhi perkembangan kebaikhatian atau mortalitas, serta kesarjanaan seseorang tidak relevan terhadap pengendalian nafsu perut" (EAN).
Apakah nafsu perut identik dengan faktor ekonomi? Jawabannya tentu. Meski hal ini dijawab oleh Disertasinya pak Pramono Anung tentang motif seseorang menjadi anggota legislatif salah satunya adalah ekonomi. Adapun berapa persentasenya, kita belum melihat hasil risetnya. 

Quote di atas menjadi inspirasi bagi beberapa orang untuk mendirikan lembaga pendidikan berbasis keseimbangan fisik dan mental. Di kalangan muslim, kita mengenal sekolah seperti SDIT, SMPIT, dll. Sekolah tersebut memaknai terpadu sebagai bagian dari pendidikan holistik, pendidikan untuk menjadi manusia seutuhnya. Tapi memang, butuh cost yang mahal untuk itu. Di Bandung saja, ada sekolah tingkat dasar yang mematok biaya awal sebesar 30 juta.

Apakah untuk menjadi manusia seutuhnya harus melalui sekolah formal? Dengan sistem yang dibangun masih rentan corrupt environment, harus ada upaya untuk mencari alternatif lain dalam mendidik anak-anak kita.

Kembali ke pertanyaan awal, pilihan tersebut ada di tangan orang tua, anda sebagai orang tua. Tidak jawaban yang salah karena semua pilihan pasti ada konsekuensinya. Hanya saja, semua harus diawali dari bagaimana kita melangkah sesuai visi yang maha besar. Mahakarya peradaban adalah sesuatu yang menggerakan umat manusia menuju sikap terbaik kehidupannya.

"Orang sukses itu tidak identik dengan orang kaya dan orang gagal itu tidak identik dengan miskin. Menang kalahnya seseorang, atau sukses gagalnya seseorang tidak ditentukan oleh apakah ia kaya atau ia miskin, melainkan oleh kekalahan atau kemenangan mental orang itu terhadap kekayaan atau kemiskinan" (EAN).


Bandung, 13 Juni 2012


2 tahun pernikahan kami (12 Juni 2010 sd. 12 Juni 2012)
Mohon doanya semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.
Aamiin

Suasana Kuliah S3

Umumnya, orang akan membayangkan suasana perkuliahan program Doktoral atau Strata Tiga itu menyeramkan. Faktanya, justru suasananya lebih sa...