Desember 22, 2009

(Bandung, 21/12) Menikmati Sang Pemimpi


Cihampelas Walk, Bandung

Bandung at the night
serasa milik anak-anak muda Bandung. Gaul, modis dan trendi menjadi gaya hidup yang tidak bisa dipisahkan bagi sebagian diantara mereka. Aku kadang tidak percaya negeri ini miskin, setiap kali kulewati mereka, ratusan blackberry menjadi mainan asyik di tangan-tangan mereka. Ah, mereka kadang tidak tahu ada sekitar 7,2 % dari penduduk Jawa Barat yang sampai saat ini masih buta huruf.

(Depok, 16-20/12) Mukernas KAMMI


Yogyakarta, Juli 2009.

Satu semester lalu aku berdiri di sana. Tepat dihadapan kalian, para pemuda Indonesia. Tak ubahnya seperti dulu, aku pun kembali dibuat terpana. Heran, raut mukaku semrawut tak karuan. Ah, tak banyak yang harus aku katakan. Betul kawanku, kata-kata adalah hasil dari tindakan. Percuma saja menggerutu, itu aib bagi diriku. Katakan saja, maju adalah pilihan bagi seorang lelaki!

Desember 12, 2009

Catatan Akhir Tahun

Jakarta-Bandung, 13 Desember 2009

Refleksi Negara: Perjalanan Menuju Indonesia Baru
Oleh: Ramlan Nugraha
Ketua Departemen Kebijakan Publik KAMMI Jawa Barat
Peserta ASEAN People's Forum



Akhir tahun 2009, gejolak reformasi seolah mendapatkan energi baru di republik ini. Entah murni atau tidak, arus pemberantasan korupsi pasca kasus yang menimpa para petinggi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) seperti bangkit kembali. Kita terhenyak, ketika respon masyarakat menanggapi kasus ini besar sekali. Hampir di setiap daerah, pemberitaan tentang dukungan kepada Bibit-Candra mengalir begitu deras. Ada pertanyaan dibalik itu, apakah ini babak baru perjalanan pemberantasan korupsi di Indonesia? Atau ini hanya sekedar bagian dari sandiwara yang dimainkan oleh para mafia politik ? Tanpa panjang lebar, saya hanya ingin mengatakan bahwa bangsa ini semakin dewasa untuk menghadapi derasnya segala macam persoalan kenegaraan.

Pemberantasan korupsi menjadi isu sentral bangsa ini. Dapat dipahami memang, urat nadi kehidupan bangsa bukan terletak pada berapa besar pendapatan perkapitanya, tetapi pada moralitas warga negaranya terutama para pemimpinnya. Gebrakan 100 hari Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tentang komitmen Ganyang Mafia (GM) menjadi program utama Kabinet Indonesia Bersatu II. Tetapi dalam perjalanannya, komitmen tersebut seakan lips service pemerintahan baru saja. Implementasinya hanya sebatas retorika, tanpa perubahan yang signifikan. Tidak ada gebrakan baru yang diciptakan.

Para koruptor masih bebas bergentayangan, aparat penegak hukum malah sibuk dengan urusannya masing-masing, saling tuduh-menuduh, seakan kitalah yang merasa benar dalam menegakkan kebenaran. Di luar itu, para koruptor tertawa terbahak-bahak menyaksikan dagelan politik yang mereka buat berhasil mengadu domba pemainnya.

Di sisi lain, kita masih berharap para pelopor gerakan bersih di negeri ini terus menyolidkan diri dalam berbagai bentukkerja sama. Salah satu kelemahan pengusung reformasi adalah kurangnya konsolidasi yang dibangun. Maka dengan ini, sudah seharusnya kita terus membangun kekuatan konsolidasi. Jangan terpengaruh dengan isu individualisme gerakan, prasangka-prasangka tidak berdasar yang pada hakikatnya memecah belah kaum reformis. Tekad kita, perjalanan reformasi yang berjalan 11 tahun ini harus berupaya untuk membangun Indonesia baru, dikomandoi oleh orang-orang yang berjuang untuk kemajuan bangsanya, bukan urusan perut dan golongannya masing-masing. Konsolidasi para pengusung reformis menjadi tema besar untuk setiap kerja-kerja yang dilakukan.

Perubahan menuju Indonesia baru juga harus diawali dengan cepatnya respon birokrat yang menjadi tulang punggung pemerintahan. Kecepatan ini tentu menyangkut dua hal, pertama struktur dan kelembagaan birokrasi (hardware) dan kedua, sistem birokrasi yang menciptakan standar kualitas pelayanan (software). Kerangka yang mendasari ini salah satunya adalah Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Publik harus bersyukur, karena salah satu materi penting dalam UU ini adalah akses masyarakat terhadap pelayanan publik dengan memperkuat lembaga Ombudsman sebagai salah satu lembaga negara yang mempunyai wewenang mengawasi pelayanan publik. Selain itu, adanya saluran masyarakat untuk menyampaikan pengaduan apabila terdapat pelanggaran-pelanggaran dalam pelayanan publik. ini merupakan acuan kontrol yang bisa dilakukan oleh masyarakat. Selain daripada kita mesti bangga ketika akhirnya di setiap daerah Komisi Informasi Daerah (KID) harus terbentuk selambat-lambatnya 2010.

Kedua hal diatas mengarahkan begitu pentingnya peran masyarakat. Kerja kolektif organisasi adalah bagaimana menciptakan kondisi atau sarana agar partisipasi publik dalam mengawasi jalannya pemerintahan semakin meningkat. Prinsip yang harus dilaksanakan sesuai dengan pencapaian good governance pada lingkup pemerintah diantaranya adalah prinsip transparancy pengambilan keputusan
atas kebijakan publik yang terbuka kepada masyarakat. Hal ini bertujuan agar mekanisme kontrol dalam pembuatan keputusan public dapat secara accountable dipertanggungjawabkan di hadapan publik.

Korupsi: Ancaman Stabilitas Nasional

UN Convention Against Corruption 2003 menjelaskan bahwa dampak korupsi yaitu ancaman bagi keamanan dan kestabilan masyarakat (threat to the stability and security of societies); merusak nilai-nilai dan lembaga demokrasi (undermining the institutions and values of democracy); merusak nilai-nilai moral dan keadilan (undermining ethical values and justice); membahayakan pembangunan berkelanjutan dan rule of law (jeopardizing sustainable development and the rule of law) dan mengancam stabilitas politik (threaten the political stability).

Semua hal diatas sudah sangat diketahui oleh masyarakat umum. perkembangan media turut serta dalam membangun isu pemberantasan korupsi. Di tingkat internasional, lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan World Bank pada 17 September 2007 pernah mengumumkan nama-nama mantan pemimpin negara yang berkualifikasi top-hat crimes (kejahatan tingkat atas). Nama-nama tersebut yaitu Ferdinand Marcos, Slobodan Melosevic, Soeharto, Mobutu Sese Seko, Jean Claude Duvalier, Sani Abacha, Alberto Fujimori, Pavlo Lazarenko, Arnoldo Aleman, dan Joseph Estrada. Pengumuman tersebut dilampiri dengan daftar prakarsa penemuan kembali kekayaan yang dicuri (stollen asset recovery = StAR Initiative). Hal ini setidaknya membuktikan bahwa lembaga internasional sangat menaruh perhatian besar terhadap pemberantasan korupsi di dunia. Tetapi sayang, kadang muatan politik lebih besar daripada hal ini. Di Indonesia misalnya, pada musim kampanye sosok Soeharto dianggap pahlawan bangsa oleh sebuah parpol tertentu. Entah apa maksudnya, publik dibuat tidak mengerti. Strategi kampanye yang dibuat tidak merujuk pada bahasa psikologi massa, tetapi hanya berorientasi pada bahasa politik elit.

Tuntutan bahwa pemberantasan korupsi harus zero tolerance belum menyentuh pada aspek implementasi. tuntutan kesadaran korupsi harus diakui belum menyentuh pada aspek fundamental. Hal ini dibuktikan dengan beberapa kasus yang terjadi saat ini. Kasus BLBI yang merugikan negara ratusan triliun sampai saat ini tenggelam dan digantikan oleh kasus Bank Century yang nilai kerugiaannya 6,7 triliun. Political will masih tebang pilih, tergantung momentum.

Kondisi daerah memungkinkan terjadinya korupsi lebih banyak. Mengutip pendapatnya Thobaben, "it's, in fact sometimes favors, honoraria, and campaign contribution". Memang betul, faktanya seringkali sulit membedakan dengan jelas antara suap, pemberian hadiah, honorarium, sumbangan kampanye, dan sejenisnya. Fenomena seperti ini kadang menjadi hal yang lumrah di beberapa daerah. Pengawasan masyarakat yang kurang, menyebabkan hal seperti ini menjadi budaya dalam tubuh birokrasi.

Di akhir tahun ini semoga bukan hanya refleksi yang kita tulis, tetapi catatan tentang komitmen perubahan yang harus kita laksanakan pada tahun berikutnya. Teringat ketika Ahmadinejad diwawancarai EU waktu di New York beberapa waktu lalu, bukan masalah ketika para pemimpin dunia bersepakat untuk menciptakan system ekonomi yang berkelanjutan dan berkeseimbangan, tetapi sebelum masuk pada ranah itu, lihatlah lebih nyata tentang proses kapitalisme yang masih merajalela. Selesaikan dulu system yang mengobrak-abrik tatanan masyarakat ini, setelah itu baru kita bicara tentang sistem yang berkelanjutan.

Begitu juga dengan kita, jangan-jangan ide dan harapan kita terlalu melangit, sementara masalah yang kita hadapi mungkin sudah ke permukaan laut. Tetap lihat kenyataan, berkata sesuai fakta yang terjadi sekarang, bukan masa lalu yang mungkin sudah berubah[]


Wallahu’alam bishshawab.

Pertemuan Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia di Asean People's Center

Jakarta, 11 Desember 2009

Pertemuan Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia di Asean People's Center. Jakarta, 11 Desember 2009. Persiapan national workshop dan Asean People's Forum III. Hadir dalam pertemuan tersebut Sdr. Rafendi Djamin, Representative of Indonesia to the ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR).


Tulisan menjadi salah satu senjata utama civil society. PR buku-buku yang harus saya baca sebelum summit Asean, strategi advokasi civil society di Asia Tenggara. English book jadi harus ekstra bacanya.


Diskusi berjalan cukup rame dan dinamis. Ada yang sepakat pasar bebas, ada juga yang menolak mentah-mentah. Hal ini berbuntut panjang pada susunan acara yang akan dibuat pada national workhsop. Kadang gara-gara sering ke luar negeri, ego temen-temen terlalu tinggi.

Desember 10, 2009

Training Advokasi Anggaran bagi Pemuda Mahasiswa Jawa Barat

Bandung, 10 Desember 2009
Training Advokasi Anggaran bagi Pemuda Mahasiswa Jawa Barat
“Upaya Kontrol Kebijakan Anggaran yang Pro Poor Melalui Penguatan Peran Pemuda Mahasiswa Jawa Barat”


Bandung (7/12), PATTIRO Jawa Barat bekerja sama dengan elemen pemuda mahasiswa Jawa Barat mengadakan training advokasi anggaran dengan tajuk “Upaya Kontrol Kebijakan Anggaran yang Pro Poor Melalui Penguatan Peran Pemuda Mahasiswa Jawa Barat”. Acara yang dilaksanakan di Hotel Bumi Kitri, Bandung ini dimulai pukul 08.00 dan berakhir pukul 18.00 WIB. Peserta yang hadir berjumlah 30 orang berasal dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, dan Kota Cirebon.

Acara yang didukung oleh The Asia Foundation ini bertujuan untuk melatih pemuda mahasiswa potensial dalam melakukan kajian cepat terhadap APBD. Dengan tujuan ini diharapkan pemuda mahasiswa bisa mengontrol kebijakan anggaran yang pro poor di Jawa Barat.

Pada sesi pertama, hadir sebagai pemateri yaitu Siti Fatimah, Direktur Bandung Institute of Governance Studies (BIGS). Dalam kesempatan tersebut, alumni studi pembangunan pasca sarjana Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menyampaikan materi tentang siklus APBD dan peran masyarakat. “APBD merupakan instrumen pemerintah daerah untuk mengimplementasikan kebijakannya. Proses ini sebagai ruang bagi masyarakat untuk mengintenskan partisipasinya dalam pembangunan, demikian ujar Siti Fatimah”. Selain itu, beliau menjelaskan terkait dengan proses dan siklus APBD, ruang partisipasi masyarakat, dan beberapa isu penting terkait masalah anggaran.

Para peserta banyak menanggapi terkait dengan siklus APBD. Mayoritas dari mereka menganggap bahwa siklus APBD hanya dilakukan selama satu tahun. Padahal dalam kenyataannya, seperti yang dijelaskan pemateri, siklus APBD adalah 30 bulan. Tahapan dalam siklus ini dibagi menjadi empat, yaitu perencanaan dan penyusunan (9 bulan), penetapan (3 bulan), pelaksanaan (12 bulan) dan auditting (6 bulan).

Dalam hal partisipasi masyarakat, kerangka hukum yang mendasari adanya keharusan masyarakat untuk terlibat aktif dalam proses APBD adalah UU 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) yang mengharuskan adanya unsur keterlibatan penyelenggaraan negara dan masyarakat serta optimalisasi partisipasi masyarakat. Selain itu, ada Surat Edaran Bersama (SEB) mengenai Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dan Permendagri 25 tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan APBD (prinsip partisipasi masyarakat).

Beberapa hal penting terkait dengan masalah penganggaran diantaranya adalah:

1. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) merupakan SKPD yang mengkoordinasikan proses perencanaan di daerah.
2. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) merupakan dokumen perencanaan di daerah.
3. APBD dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda). DPRD harus mulai terlibat dalam Musrenbang (kecamatan atau wilayah pemilihan), Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas dan Plafon Anggaran (PPA).
4. Dalam proses anggaran, posisi SKPD sebagai pengguna anggaran dan DPRD sebagai pengawas anggaran.
5. Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) berfungsi administratif, mengkompilasi RKA-SKPD untuk disiapkan menjadi Raperda APBD.
6. Medium-Term Expenditure Framework (MTEF) atau kerangka pengeluaran jangka menengah dibuat SKPD untuk jangka waktu dua tahun.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Alwin Khafidhoh, Program Officer Bandung Institute of Governance Studies (BIGS) dan Kang Dan Satriana, inisiator Komisi Informasi Daerah (KID) Jawa Barat. Alwin Khafidhoh menjelaskan tentang peraturan-peraturan dan struktur APBD, sedangkan transparansi dan advokasi dalam proses penyusunan APBD disampaikan oleh Dan Satriana.

Pada sesi terakhir, peserta diajak berdiskusi terkait wacana awal pembentukan Komisi Informasi Daerah (KID) Jawa Barat. Sesi ini dipandu oleh Dan Satriana, pendiri yayasan KalyANamandira yang juga inisiator KID Jawa Barat. Sesuai dengan yang tercantum dalam UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik maka perlu dibentuknya sebuah lembaga mandiri yang bernama komisi informasi. Komisi ini bertugas untuk menerima, memeriksa dan memutus permohonan permohonan sengketa informasi publik melalui mediasi dan/atau ajudikasi nonlitigasi yang diajukan oleh setiap pemohon informasi publik berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang; menetapkan kebijakan umum pelayanan informasi publik dan menetapkan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis.

Sebagai rencana aksi tindak lanjut dari acara ini, para peserta bersepakat untuk membentuk sebuah forum yang diberi nama Forum Pemuda Mahasiswa Jawa Barat. Bahkan teman-teman dari KAMMI Daerah Cirebon dalam dua minggu ke depan berencana untuk mengadakan training serupa tentang advokasi anggaran dan mengundang PATTIRO sebagai fasilitatornya.
Berbeda dengan Cirebon, teman-teman Tasikmalaya dalam beberapa pekan ke depan akan melakukan audiensi dengan DPRD sehubungan dengan pembentukan Komisi Informasi Daerah (KID).

Sebagai penutup, Lembaga mahasiswa yang hadir dalam acara ini adalah KAMMI Daerah Bandung, KAMMI Daerah Tasikmalaya, KAMMI Daerah Cirebon, KAMMI Komisariat UPI, BEM UNPAD, BEM Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), BEM UPI, BEM UIN SGD, BEM Universitas Siliwangi, BEM IT Telkom, BEM UPI Tasikmalaya, BEM Unswagati Cirebon, Front Mahasiswa Nasional (FMN) Bandung, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UIN Sunan Gunung Djati, LDK STT Tekstil, LDK IT Telkom, LDK Unswagati Cirebon dan LDK UPI Tasikmalaya[]


Ramlan Nugraha
PATTIRO Fasda Jawa Barat
Jl. Tubagus Ismail Gg. Gemini no. 20 Bandung 40314
Telp. (022) 2503571

Desember 09, 2009

Pesan teruntuk Sahabat yang Milad Desember ini

Bandung, 10 Desember 2009
Ditulis pukul 01.15 - 2.25 pagi
Catatan Ringan Ramlan Nugraha




Deden Desimal: Kritis, Pendiam dan Pemberani

Lahir di Subang, 9 Desember 1986
Satu almamater, alumni SMKN 1 Purwakarta 2001-2004
http://www.facebook.com/profile.php?v=photos&ref=ts&id=100000435177644#/dedendesimal?ref=ts


Deden Desimal, saya mengenalnya sejak tahun 2001. Kami dipertemukan karena satu SMK di Purwakarta. Entah waktu itu, karena terlalu banyak anak Subang saya sempet sebel juga, "Ngapain nih orang jauh-jauh ke Purwakarta? Buat sesek aje". Maklum, dulu masih ABG, emosi lagi panas-panasnya.

Itu persepsi saya di awal pekan pertama masuk sekolah. Sebagai anak tuan rumah, wajar dong punya nasionalisme agak tinggi dibanding para inlander ini. Tapi kelamaan, ini sifat jelek. Harus dibuang jauh-jauh, karena bisa menyebabkan tawuran antar daerah. Halah!

Deden Desimal mungkin mengenal saya sebagai partner diskusi. Yup, seantero anak Otomotif, anak-anak pada mengakui bahwa Deden Desimal adalah tukang kritik. Kadang buat seger, tapi lebih banyak pahitnya. Sorry ya den. Tapi yang saya salut dari Deden Desimal adalah celotehannya yang blak-blakan, penuh percaya diri, menabrak sesuatu yang dianggapnya jumud dan jadul. Haha.., ini yang saya suka dari Deden Desimal. Mungkin kita punya karakter sama, males melihat sesuatu yang biasa. Kalau bisa dapet yang luar biasa, kenapa milih yang standar. Begitu kira-kira.

Kritis, pendiam dan pemberani menjadi tag line Deden Desimal yang saya temui dari 2001 sampai 2004. Lima tahun tiga bulan kami belum berjumpa lagi, semenjak lulus SMK. Deden pulang kandang ke Subang, membangun atau mungkin menambah ancur kota kelahirannya (sorry den), sedangkan saya melanjutkan studi ke Bandung. Interaksi antara kami baru berjalan beberapa bulan terakhir, berkat bantuan bung Mark lewat FB-nya. Entah, apa Deden Desimal sama seperti yang dulu, ataukah jadi lebih baik atau malah sebaliknya ?

Satu keyakinan saya kepada Deden Desimal. Kita dilahirkan di satu almamater yang sama, belajar bersama, untuk bisa dan terampil mekanik otomotif. Disiplin ilmu yang kita pelajari mengajari kita untuk tekun, bekerja keras tanpa henti, menemukan sesuatu bukan hanya di luar saja, tapi sampai ke akar-akarnya. Saya yakin, sikap ini mengajari Deden Desimal untuk tumbuh dan berjuang sampai sekarang ini.

Deden Desimal, meski saya belum diberi kesempatan untuk bertemu denganmu dan teman-teman yang lain, satu harapan saya ketika engkau hari ini bertambah usia. Tetap pegang teguh keyakinan bahwa kita diciptakan untuk berbuat yang terbaik untuk ummat ini. Dedikasikan segala aktivitas yang engkau lakukan semata-mata karena Tuhanmu, bukan karena godaan materi apalagi kecantikan wanita yang menipu mata. Lihatlah sekelilingmu, belajarlah dengan hati bukan dengan mata. Jadilah engkau pribadi yang mantap, penuh percaya diri untuk jadi seorang pelopor sejati, bukan menjadi pengikut barisan orang lain.

Deden Desimal, saya hanya bisa menuliskan ini saja. Tidak terlalu banyak, tapi cukup mewakili tanggung jawab saya sebagai teman. Persahabatan tak akan hilang sampai kapanpun! Umurmu bertambah, usiapun semakin menipis. Barakallahu lakum, semoga menjadi pribadi yang selalu dicintai setiap orang. Wassalam.


Best regard,
Ramlan Nugraha

-----------------------------------------------------------


Dini Handayani: Superaktif, Cerewet dan Cerdas
Lahir di Bandung, 8 Desember 1983
Satu almamater di UPI Bandung dan KAMMI 2004-2008.
http://www.facebook.com/profile.php?v=photos&ref=ts&id=100000435177644#/profile.php?id=100000435177644&ref=ts


Saya kenal Dini Handayani tahun 2005. Entah apa bayangan saya waktu itu tentang sosok perempuan berkaca mata ini. Tiga kata tentang beliau: Superaktif, Cerewet dan Cerdas. Superaktif dengan vespanya dan jalannya yang kalau ada batu pun mungkin ditendangnya. Cerewet, duh mas...ya Allah ga mau berhenti kalau diajak diskusi. Dan terakhir cerdas. Ga mungkin masuk UPI kalau ga cerdas tentunya, halah narsis.

Dini Handayani mungkin sangat ingat siapa ikhwan di komisariat yang paling sebel baginya. Yup, mungkin saya. Zamannya Deni Priyatno, saya protes paling keras karena Dini Handayani terlalu aktif di kepengurusan Kamda, sedangkan komisariat agak terbengkalai. Haha.., tapi ini protes bukan sekedar benci,dsb. Ini rasa dimana saya sebagai yunior menganggap Dini Handayani adalah asset yang harus powerfull contributed di Kampus sebelum masuk ranah selanjutnya.

Dini Handayani, saya anggap sebagai kakak mentor. Angkatan beda setahun, tapi umur mungkin kita agak jauh. Tidak terlalu masalah, toh kalau diskusi kita tidak pernah ada yang mengalah. Orang bilang tidak pernah akur.

Pertemuan saya dengan Dini Handayani hanya sekitar 4-5 tahun. Tapi cukup bagi saya untuk mengenal dan memahami makna hidupnya. So pasti bisa dijadikan pelajaran bagi saya dan keluarga saya nanti. Khusus Ramlan Nugraha, Ngatifudin Firdaus dan Syafrizal sangat ngeh dengan karakter Dini Handayani.

Dini Handayani, walaupun kita dipisahkan dengan pulau, yakinlah bahwa persahabatan yang sudah terjalin tidak akan pernah putus. "Setiap Mukmin adalah Bersaudara". Medan Jihad terbuka bagi siapa saja dan dimana saja. Terakhir, umur bertambah berarti dekat dengan kematian. Semoga tak kenal lelah dalam membangun keluarga yang samara, berbakti kepada suami, dan terus berdedikasi untuk perjuangan ummat.
Terus kobarkan semangat, pastikan semangat jihad tak pernah padam di dalam dadamu!

Best regard,
Ramlan Nugraha



Desember 08, 2009

Profil RAPBD 2010 Provinsi Jawa Barat

Ramlan Nugraha
PATTIRO Jawa Barat
Bandung, 9 Desember 2009



Kondisi RAPBD 2010

Alokasi tiap sektor dalam RAPBD 2010:
1. Pendidikan 20 %
2. Infrastruktur 17,5 %
3. Ekonomi 15 % (meningkat 8,06 %)
4. Kesehatan 5 % (meningkat 3,67 %)

Nilai pendapatan daerah 2010 Rp 7,7 triliun atau naik sebesar 11,28 % dibandingkan 2009 sebesar Rp 6,46 triliun.



Komposisinya berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp 5,62 triliun, dana perimbangan 2,10 triliun, pendapatan lainnya yang sah Rp 8,25 miliar.

Alokasi Dana Belanja RAPBD 2010
Alokasi dana belanja RAPBD 2010 Rp 9,02 triliun.
Perbandingan dengan APBD 2009 yaitu:

Alokasi dana belanja langsung RAPBD 2010 akan disalurkan untuk 96 program. Pada APBD 2009 berjumlah 95 program.

Wajah RAPBD 2010

Menurut Heryawan, pada tahun 2010, wajah APBD Jabar dipastikan lebih berpihak kepada masyarakat. Dia menyatakan, program pendidikan dan infrastruktur menjadi prioritas kinerja Pemprov Jabar di tahun 2010. Dia menjelaskan, anggaran pendidikan tahun 2010 tetap 20 persen dari nilai APBD atau setara Rp 1,8 triliun. Republika, 8 Des 2009.

Ketua DPRD Jabar, Irfan Suryanegara mengakui, bila melihat wajah RAPBD 2010, nilai belanja untuk masyarakat meningkat menjadi 45 persen. Pada APBD 2009, tutru dia, nilai belanja untuk masyarakat hanya 35 persen. ‘’Dewan wajib mendukung program yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat,’’ ujar Irfan. Republika, 8 Desember 2009.

Prioritas RAPBD 2010


Prioritas RAPBD 2010 adalah sektor Infrastruktur. Pada tahun 2009 sektor infrastruktur dan lingkungan hidup dialokasi sebesar 14,91 % atau 1,24 triliun.
Pada 2010, sektor infrastruktur berpisah dengan lingkungan hidup. Anggarannya Rp 1 triliun atau 17,5 % dari total RAPBD 2010.

Alasan Prioritas RAPBD 2010

Sektor infrastruktur menjadi prioritas RAPBD 2010. Hal ini karena target Pemerintah Provinsi untuk perbaikan kondisi jalan di Jabar mantap 90 % dari total jalan yang ada.

”Untuk infrastruktur kita prioritaskan untuk perbaikan jalan karena kita ingin kondisi jalan di Jabar ini mantap 90% dari total jalan yang ada”. (Ahmad Heryawan, Harian Seputar Indonesia, Kamis 29 Oktober 2009).

SEKTOR INFRASTRUKTUR

Pemprov akan meneruskan rencana pembangunan 12 jalan tol, diantaranya Cikampek-Palimanan, Kanji-Pejagan, Soreang-Pasir Koja dan tol dalam kota Bandung.

Rencana penuntasan jalan lintas selatan, peningkatan jalan Bandung-Pangalengan-Rancabuaya sepanjang 90 km, pembangunan Bandara Internasional Kertajati, peningkatan Bandara Husein Sastranegara, pembangunan pelabuhan Laut Cilamaya Kabupaten Karawang, Reaktivasi lima jalur kereta api, dan pembangunan Waduk Jatigede.

Volume RAPBD 2010

Volume RAPBD 2010 Rp 9,02 triliun (bandingkan APBD 2009 Rp 8,26 triliun)
Walaupun volume bertambah tetapi kegiatan di RAPBD 2010 menurun 35 % dibandingkan waktu APBD 2009.
Hal itu karena adanya penghapusan honor PNS Pemprov dan penekanan pada sistem tunjangan tetap.

Prioritas Sektor Lain

Dalam pengembangan energi, Pemprov Jabar akan menuntaskan program “Jabar Caang” dan peningkatan rasio elektrifikasi.
Dalam peningkatan daya beli masyarakat, Pemprov akan merevitalisasi pasar tradisional dan memberikan modal usaha melalui UKM dan subsidi bunga.

PENUTUP


Penetapan RAPBD 2010 oleh DPRD Jabar akan dilaksanakan pada 23 Desember 2009. Bagi teman-teman Civil Society ayo kita berikan tanggapan terkait dengan profil RAPBD 2010 ini. Terima kasih.

Desember 07, 2009

Pengertian Istirahat Versi Saya, Dokter dan Orang Tua

Senin, 7 Desember 2009
Catatan Desember Ramlan Nugraha

Maaf, tulisan ini bersifat pribadi. Jangan dipublish di luar, apalagi disebarkan ke para wartawan dan media elektronik. Berbahaya, khawatir anda terkenal mendadak. Terima kasih.




Malam ini saya paksakan untuk menulis. Walau kondisi badan sudah lelah, tapi rasa hati tak tega melihat blog ini sudah hampir dua minggu kosong tanpa tulisan. Ah, mending saya nulis saja. Entah mungkin inspirasi kadang datang tak terduga. Tapi saya yakin, itu pasti datang tatkala kita terus tanpa henti menggerakkan tuts keyboard ini.

Hari ini dari pagi sampai tadi menjelang Isya, pukul 19.00 saya masih berada di Hotel Bumi Kitri, Jl. Ciputra Bandung. Ada agenda training anggaran bagi pemuda dan mahasiswa se-Jawa Barat. Penyelenggaranya PATTIRO Jabar, lembaga dimana saya bernaung beberapa bulan ini.

Wuihh, hampir seharian itu jujur mood kerja saya agak berkurang. Entah apa karena malamnya saya baru pulang dari Jakarta, dan pagi harus langsung meluncur ke kantor, persiapan training ini, atau karena apa? Saya menduga, tetap kelelahan fisik masih menjadi jawaban. Padahal, sudah dua pekan ini saya intens mengkonsumsi sari kurma. Khasiatnya cukup terasa, kalau minum itu, badan yang agak loyo setidaknya langsung seger. Haha.. atau bisa saja pengaruh psikologi.

Pasca sakit seminggu kemarin, saya berusaha untuk hati-hati terutama menyangkut masalah kesehatan. Makan teratur sehari tiga kali, minum air putih dua liter sehari dan menambah asupan makanan yang bergizi. Tapi ga tahu ya, baru juga lima hari setelah keluar dari Rumah Sakit pola makan dan istirahat saya kembali seperti semula, kurang teratur. Itu kata dokter sih. Biasa, kalau ke dokter, minimal kita sedikit diwawancara secara umum tentang apa aktivitas kita sehar-hari. Ya, saya kadang sampaikan detail, kadang juga garis besarnya saja.

Entah hampir semua dokter yang saya temui pasti menganjurkan hal yang sama. Kalau anda ingin sehat, coba pola makan, minum, istirahatnya yang teratur. Jaga kondisi badan, istirahat secukupnya, dll. Sama persis kalau saya berada di rumah. Entah Ibu atau Bapak, keduanya sama, tiap saya pulang pasti yang ditanyakan, bagaiman makanmu? aktivitas apa saja? Kok makin kurus, jarang makan ya? Waduuuh, karena yang nanya orang tua, ya mesti dijawab. Ada persepsi yang beda antara saya, dokter dan orang tua terkait dengan pola istirahat yang baik. Saya meyakini dan sampai sekarang masih intens melakukan bahwa istirahat itu dilakukan kalau kita benar-benar dalam kondisi cape, lelah, lapar ataupun banyak pikiran. Dalam kondisi itu zona istirahat saya bener-bener pulas. Kalau kata dokter beda lagi. "Mas Ramlan, usahakan punya waktu khusus untuk istirahat. Jaga jangan sampai kondisi badan lelah, karena itu bisa berakibat sakit. Kondisi badan tidak seimbang. dll..". Ya saya sih angguk-angguk sajalah, wong namanya juga pasien. Kita hargai profesi dokter. Walau bagaimana pun mereka lebih faham mengenai kondisi kesehatan dibanding dengan kita. Apalagi saya, jurusan saja teknik mesin, kerja di lembaga riset kebijakan publik, waduh mana tau powerfull tentang kesehatan? Tapi tidak untuk kebersihan. Untuk masalah ini, saya harus jadi yang terdepan. Di manapun, kapanpun, kita tetap harus menjaga kebersihan. Enak kalau lihat orang bersih, lingkungan bersih, membuat kita adem.

Lantas bagaimana dengan orang tua? Duh, kalau disebut cerewet, bukan sih ya. Mereka sebenarnya perhatian, tapi kadang persepsi kita saja yang tidak baik. Kadang suatu waktu saya protes juga ke orang tua, tapi setelah itu ya tersadarkan bahwa mereka sayang sama kita. Dulu sih protes, kalau sekarang ya mending diam saja. Dosa lho kalau bilang ups saja.

Ada satu yang menjadi indikator seorang anak itu dikatakan istirahatnya bagus kalau di keluarga saya. Tidur malam jangan lewat dari jam sembilan malam. Itu saya, di keluarga memang paling bandel masalah ini. Entah mungkin karena satu-satunya anak lelaki, jadi hal ini sejak SMP paling jarang ditaati. Saudara-saudara perempuan ga ada masalah, mereka konsisten bisa melaksanakan ini. Kakak saya, IQ-nya 130 waktu SD kelas enam. Kalau baca referensi kita bisa lihat tingkatannya:
Tingkatan IQ menurut para ahli, adalah sebagai berikut :



GENIUS HAMPIR DI ATAS >140
SANGAT SUPER 120 -- 140
SUPER 110 - 120
NORMAL 90 - 110
BODOH 80 - 90
PERBATASAN 70 - 80
MORON (DUNGU) 50 - 70
IMBECILE 25 - 50
IDIOT 0 - 25

Nah, kakak saya waktu kelas enam SD masuk sangat super. Memang orangnya rajin, beda dengan saya. Sampai sekarang pun, kagak tau dah berapa IQ saya. Apa ada korelasi orang yang tidurnya diatas jam sembilan dengan yang tidak tambah cerdas? Saya jawab ga. Tapi orang tua saya beda. Prinsip tidur malam 6-8 jam harus dilaksanakan.Kalau ga, berarti pola istirahatnya kurang baik. Nah, inilah yang selalu jadi bahan kritikan terhadap diriku. Ramlan dicap pola istirahatnya paling jelek, sehingga badannya paling kurus diantara saudara-saudara yang lain. He..he..

Bab selanjutnya yang ingin saya tulis adalah tentang lupa makan. Ini kebiasaan saya yang sudah melekat sehingga mungkin jadi akar dalam tubuh. Lupa Makan!! Lucu memang, makan saja kok lupa. Perihal ini akan ditulis pada episode berikutnya. Berhubung malam ini harus istirahat dulu.


Wassalam.
Bandung, pukul 00.41 Wib.